Selasa, 10 Mei 2011

Web DPR RI yang seratus miliar, g jauhbeda sama buatan mahasiswa Informatika.



JAKARTA, KOMPAS.com — Peneliti dari Indonesia Budget Centre, Roy Salam, menyampaikan, DPR berkewajiban memublikasikan setiap kegiatan yang dilakukan atau produk yang mereka hasilkan melalui teknologi informasi yang dapat diakses setiap orang. Namun, menurut dia, para anggota Dewan kurang memanfaatkan teknologi yang mereka miliki. Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk membangun infrastruktur teknologi informasi bagi DPR itu, kata Roy, tidak sedikit.

<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a3126491' border='0' alt='' /></a>

"Sebetulnya, DPR banyak yang sudah ada di dalam terkait daya dukung untuk memperkuat data dan informasi. Hanya saja tidak terkoordinasi dengan baik," katanya dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (8/5/2011).

Dalam jumpa pers itu, hadir pula Direktur Monitoring, Advokasi, dan Jaringan Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Ronald Rofiandri dan peneliti korupsi politik Indonesia Corruption Watch, Abdullah Dahlan.

Menurut Roy, berdasarkan DIPA Setjen DPR 2010, biaya pemeliharaan jaringan sistem informasi website resmi DPR, yakni www.dpr.go.id, pada 2010 berkisar Rp 9,75 miliar, yang terdiri dari biaya pembayaran provider website senilai Rp 8,4 miliar per tahun dan biaya pemeliharaan situs www.dpr.go.id senilai Rp 1,3 miliar.

"Kemudian, ada program untuk pengembangan sistem informasi dengan budget Rp 9,3 miliar pada 2010 dan Rp 12 miliar pada 2009," katanya.

Sayangnya, website resmi DPR yang menelan biaya cukup besar itu, lanjutnya, tidak dimanfaatkan dengan baik. Contohnya, situs itu tidak digunakan untuk memublikasikan hasil studi banding DPR ke luar negeri selama 2009-2014. Situs www.dpr.go.id juga tidak menyediakan fitur tersendiri yang menempatkan laporan kunjungan ke luar negeri.

"Laporan studi banding BURT ke Maroko, Jerman, Perancis, studi banding Panja RUU Kepramukaan ke Korsel, Jepang, dan Afrika Selatan, studi banding Badan Kehormatan ke Yunani adalah contoh laporan yang hingga saat ini belum dipublikasikan melalui situas dpr.go.id," ujarnya.

Roy juga menilai, DPR telah melakukan pemborosan dengan tidak memanfaatkan secara maksimal teknologi yang sudah mereka miliki. Apalagi, biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan infrastruktur itu tidak murah. Contoh lain kurangnya pemanfaatan teknologi oleh DPR, kata Roy, adalah terkait penggunaan perpustakaan DPR. Sedianya, perpustakaan tersebut dapat menjadi sarana mencari informasi terkait rancangan undang-undang yang tengah dibahas. Namun, DPR seolah lebih senang melakukan kunjungan kerja ke luar negeri ketimbang mencari informasi dari perpustakaan.

"Biaya untuk pembayaran provider website informasi perpustakaan per tahun pada 2010 sebesar Rp 660 juta atau Rp 55 juta per bulan. Promosi perpustakaan per tahun sebesar Rp 192 juta atau Rp 16 juta per bulan," katanya.

Komentar dari anak2 kaskus:

entah mungkin karena kaskuser pada tumpah ruah mengunjungi dpr.go.id atau karena emang server dpr.go.id nya yang kacangan. jam 14:00 WIB website ini tak bisa lagi dikunjungi. Kalau ini terjadi karena OVERLOAD BANDWIDTH.. maka sungguh disayangkan sebuah website PERWAKILAN RAKYAT yang katanya mewakili ratusan juta jiwa rakyat indonesia itu harus K.O saat dikunjungi ribuan orang saja!!!!

kalau menurut hitung - hitungan saya nih kalau mau hemat :

- desain web nya itu gak lebih dari Rp. 10.000.000
- server dibagi 2. pertama server public untuk isi berita - berita doang. letakin di softlayer atau the planet di USA colocation cuma Rp. 5 jutaan per bulan. server kedua server private untuk email dan informasi - informasi penting negara. servernya di letakin di dpr dan dikelola oleh tim security yang handal. server untuk ini paling banter 200 juta udah cukup.
- untuk bandwidth pakai aja BIZNET 4G palingan 10 juta sebulan
- staff untuk EDP buat entry berita cukuplah 3 orang masing - masing untuk kelola beberapa segmen berita. Gaji masing2 x Rp. 5 juta. = Rp. 15 juta/bln
- Tim Network Operating Control ambil 2 orang aja yang gaji Rp. 15 juta = Rp. 30 juta/bln

total biaya perbulan palingan Rp. 70 jutaan x 12 baru 800 an juta setahun.
plus biaya maintenis dan biaya tak terduga lain nya 500 juta per tahun cukup lah.

Jadi totalnya biaya mengelola website dpr itu seharusnya cuma 1.3 milliar doang. pertahun ! bukannya :

- biaya pembayaran provider website senilai Rp 8,4 miliar per tahun
- biaya pemeliharaan situs senilai Rp 1,3 miliar.

Total Rp. 10.1 milliar.

Ini sih pemborosan gila - gilaan

Senin, 09 Mei 2011

GKA in Progress













Gerakan kakak asuh disini akan ditampilkan slide dan penjelasan lebih lanjut tentang GKA:

Selasa, 03 Mei 2011

Beasiswa Pendidikan GKA Gerkan Kakak Asuh







Siapa yang tidak mengenal laskar pelangi...??
Siapa yang tidak kenal akan tokoh-tokoh besar di negeri ini..??
Mereka awalnya bukan siapa-siapa tapi karena usaha, cita-cita dan doa mereka bisa menjadi penerus harapan bangsa.

Lihatlah laskar2 pelangi disekitar kita.,
Mereka yang tinggal di bantaran-bantaran sunga, jalan-jalan dan kolong jembatan.
Mereka yang sepetak kamar saja harus ditinggali beberapa keluarga untuk menyambung kehidupan
Mereka yang untuk makan besok pun belum terpikirkan

Mereka bukan anak-anak bangsawan, bukan anak orang-orang mapan tapi,
Mereka mampu menjadi orang-orang pembangun Indonesia di masa depan.
Mereka adalah anak-anak dengan segudang cita-cita dan massa depan.
Getir pahitnya kehidupan pernah mereka rasakan.
Mungkin diantara mereka ada yang kelaparan..
Diantara mereka ada yang pernah menggelandang...
Diantara mereka ada yang tak memiliki biaya untuk melanjutkan pendidikan..
Ada yang menjadi korban kekekrasan,..
Ada yang terlahir dari ketidak harmonisan....
Ada yang mesti mencari pekerjaan tambahan untuk masa depan...
Ada diantara mereka yang tak punya ayah atau ibu...kakak, bibi ataupun paman..

Bersukurlah bagi kita yang memiliki kehidupan yang sudah cukup nyaman..
Mari kita tengok di sekitar tempat tinggal, rumah atau kosan
Mungkin masih banyak diantara mereka yang butuh bantuan

Mari bantu mereka untuk menuju perubahan..,
Mungkin kita tak mampu merubah segalanya..
Tapi yakinlah setiap rupiah yang kita keluarkan bisa membantu membangun secercah harapan bagi mereka..

Saya peduli karena yang muda yang membawa perubahan bagi bangsa ini
Ayo salurkan donasi pendidikan anda dalam program Gerakan Kakak Asuh untuk membantu pelajar SD, SMP, SMA yang tidak mampu di Bantaran sungai citarum (Daeyuh Kolot Bandung Selatan)

Support GKA (Gerakan Kakak Asuh) program dengan membeli kaos ini, sebagian dari keuntungan akan langsung dialokasikan untuk baesiswa pendidikan di beberapa Sekolah di bantaran sungai citarum meliputi:
SD SUkabirus
SD Lengkong
MA Al-Mukhlisin
MA-Persis Ciganitri
SMP Garuda
SMP Negeri 1 Dayuh Kolot
SMP Sandhy putra
SMA Sandhy Putra
dll

Dapatkan Kartu GKA Gerakan Kakak asuh dan laporan lebih jauh mengenai program ini...




Supprot and wear it..!!! sebagian keuntungan untuk pemberian beasiswa pendidikan siswa SD, SMP dan SMA bagi yang kurang mampu..

Harga Rp. 55.000,00 bagi yang telah menjadi kakak asuh cukup Rp. 50.000,00

So jangan mau ketinggalan
Ukuran :
cowo : lebar/panjang

S : 46/64
M : 48/68
L : 52/72
XL : 54/76
XXL : 60/80
XXXL : 64/84


cewe : dada/lebar/panjang

S : 42/44/56
M : 44/46/60
L : 46/48/64
XL : 48/50/68
XXL : 50/52/72
XXXL : 52/54/76


Tersedia dalam 4 varian warna putih, biru muda, ijo dan abu2

Silahkan ketik (Kaos_nama_warna_ukuran_jumlah) ke 085720064822 atas nama Chilmy
Contoh (Kaos_Agung_biru_m_1) kirim ke 085720064822

Minggu, 01 Mei 2011

Masyarakat Indonesia


palpasi post mortem

oleh Bagus Wildan H pada 01 Mei 2011 jam 2:10

Hanya Indonesia yang bisa bicara dalam banyak warna,

Satu atap dengan strata peradaban yang komplek.

Di ujung dunia lain, tidak ada hal yang senada dengan Indonesia.

Jika bukan pendatang yang terlihat lebih berperadaban, bisa juga pribumi yang mampu mengekspektasikan peradabannya.

Peradaban saya coba ambil dari sisi yang benar2 positif, yakni tingkat kemajuan manusia berdasarkan kemajuan ilmu baik dunia dan ruhani yang meliputinya. Artian dunia manusia lebih beradab terhadap cara2 yang lebih humanis, non natural behavior, kemauan untuk maju dalam bidang2 yang mempermudah kehidupan dan masyarakatnya lebih menonjol. Sedangkan ruhani, saya pandang dengan jiwa saya sangat spesial jika hal ini lebih mengarah kepada Agama yang benar (catatan: jika ada unsur tulisan yang menyudutkan Islam bahwa negara beragama Islam layaknya Timur Tengah lebih miskin, saya pribadi sangat tidak sepakat. Hal ini karena miskin tidak ada hubungan berbanding lurus dengan tingkat kemajuan peradaban)

Kembali ke Indonesia yang hanya mampu bicara dalam banyak warna. Warna disini adalah peradaban kebudayaan. Jika anda adalah penduduk Indonesia asli lihatlah telisik sejarah. Mana daerah Indonesia yang telah mengalami ekspektasi peradaan dan mana yang belum dalam sesi tahun atau abad yang sama. Banyak unsur yang menjadikan perbedaan semacam itu. Adanya sifat keterbukaan komunitas, strategis area baik untuk dagang maupun transit, pengenalan sistem kekuasan yang lebih baik, komunal atau soliternya antar komunitas di sebuah daerah, kemampuan mengeksplorasi dan aplikatifnya bahasa yang dimiliki. Dari pangkal nilai2 ini Indonesia berpotensi lebih besar menjadi keragaman peradaan yang besar.

Sekali lagi peradaban disini adalah budaya yang tidak diartikan sebagai standar manusia mampu membuat bangunan dan karya seni yang lebih maju. Dalam dua hal ini saya hanya bisa berpendapat bahwa itu semua adalah imbas dari sebuah peradaban. Karena jika diartikan dalam kedua hal itu akan tersa sangat sempit bagi artian sebuah peradaban yang telah menghantarkan manusia hingga sekarang.

Peradaban Indonesia yang komplek terdiri dari beragam bentuk masyarakat, primitif ada, komunal soliter ada, soliter sejati ada, komunal tertutup ada, komunal terbuka ada, aristokrasi ada, sukuisme ada, konservatif ada dan modern ada (Proletar dan borjius tidak masuk, karena ini bisa ada di semua bentuk masyarakat). Jika selama ini sebagaimana yang kita fahami, contohnya Afrika lebih berpedoman kepada yang awal, kaum Eropa lebih berpedoman kepada yang akhir akan sangat mudah melogikakan jika seuatu sitem coba diterapkan akan lebih lancar perjalanannya. Jika diibaratkan serat kabel, jika pakai tembaga ya segitu gitu saja hantarannya, tapi bagaimana jika pakai serat optik atau mungkin emas barangkali. Siapa tahu lebih kuat penghantaran ke objek penerimanya. Indonesia bukanlah Jawa (kulo tiyang Jowo/saya asli Jawa), Indonesia bukanlah hanya kota2 besar dimana yang selama ini kita ketahui, Indoensia bukanlah hanya tempat2 indah yang selam ini kita mimpikan di malam hari kita. Iya, semuanya itu ada namun alangkah sempitnya jika kita memandang Indonesia dengan kompleksitas manusia hanya dari sudut pasif (geografis) –nya saja.

Saya teringat tentang swastawan Nihon yang getol untuk membantu pemda di daerah NTT untuk tanam modal untuk membuat perkerbunan jarak. Jika kita berfikir, NTT sudah kita kenal lama dengan topografinya yang kurang menguntungkan, tapi berkat kelihaiannya si Nihon mampu melihatnya sebagai peluang yang menguntungkan. Ini saya tampilkan bukan sebagai gambaran ekonomisnya, tapi bagaimana sebuah daerah dengan kondisi manusianya yang berperadaban lebih rendah dibanding Jawa mampu ditangkap untuk diberdayakan lebih baik. Apa yang mampu menjadikan si Nihon ini lebih tertarik ke sana?

Kasus yang lain, tentang freeport. Kita tahu ini adalah perudahaan tambang maha besar yang dimiliki swasta asing di Indonesia. Si Investor saya yakin tahu dengan tepat bagaimana manusia di area investasinya, tapi ada sisi lain yang bisa ditangkapnya. Papua dengan keterbelakangan peradabannya mampu disulap freeport yang notabene orang asing menjadi sebuah the one light city on the highest land. Bagaimana bisa?

Kasus lainnya tentang malysian yang mampu berburu mendapatkan hak izin tanam hutan dengan areal tanam yang tak mungkin kita bayangkan di area area terpencil di Indonesia (nyata) dan banyak kasus2 lainnya.

Bukanlah kita menaruh pandang negatif di dalam tulisan ini, hanya karena mereka kaya dengan memanfaatkan kekayaan kita. Namun lebih ke arah bagaimana mereka mampu eksis dan mampu masuk ke ranah macam2 peradaban yang lebih rendah dari mereka. Harusnya kita belajar untuk itu. Tidak sempit hanya tentang sebuah ekonomi, namun bagaimana cara kita mampu melakukan pendekatan dan merubah pembawaan yang negatif terhadap satu dari ragam komunitas di masyarakat kita. Implementasinya???? Satu hal yang selalu saya tangkap dari orang berhasil, hanya karena mereka mau dan berani berkata untuk dirinya :’jika belum dicoba, pantang berucap tidak bisa, susah, sulit dan akar katanya’

Kemampuan manusia dalam peradaban lebih tinggi untuk mempengaruhi manusia lain dbawah peradabannya sangatlah tinggi. Potensi ini akan terkuak jika kita sadar dimana saya, kita dan mereka berada dalam tingkatan ini. Berlama dalam satu komunitas yang saklak(berangap tidak akan berubah atau berpindah atau bersentuh) dengan yang lain adalah satu kekurangan pada diri kita bangasa Indonesia saat ini. Fakta2 masyarakat telah banyak digunjingkan, fakta2 sosial baik individu, kolompok, komunitas, maupun bangsa telah banyak diperdengarkan. Anggapan jika dan jika kita mau untuk merakyat, mau arif dalam bermasyrakat, mau merubah budaya, mau berbenah diri hanyalah sebuah ungkapan palsu dimana kita mencoba meletakkan segalanya dengan ragam pendapat pribadi tanpa adanya perubahan.

Kemampuan manusia dalam sosialnya yang lebih mengena adalah bagaimana seorang individu mampu untuk memahami seperti apa masyarakat kita dan jika akan berbenah seperti apa cara kita berdekat yang lebih baik, tanpa mengurangi tingkatannya di sebuah peradaban. Artiannya menurunkan tingkatan ke tingkat pemahaman objek tidaklah serta merta kita terikut untuk melepas apa yang telah kita miliki.

Dalam kenyataannya, masyarakat kita masih suka dengan pembatas. Dari sudut pandang toleransi memang lebih baik, tapi dari sudut perbaikan ke arah keterbukaan butuh penguatan budaya positif dalam hal berfikir.

Minggu, 24 April 2011

Proud to be Indonesian



Proud to be Indonesian

In Aceh, you can enjoy the dance-berteguk Seudati and sips coffee. then on along the Bukit Barisan, a lot of you have encountered the canyon and lake. And the beach boy, there is one who never forgot his father, was the high point on the beautiful island of Belitung similar paintings.

If you get to the land of Java, Stop and once to the beach filled Bayah natural stones elegant. Oh yes, son, not far from there, you can also find our brothers Bedouin tribes who are still closely guard the tradition of our noble ancestors.

You have stood in the Tatar Pasundan, son. Open your eyes, ears and hearts, to enjoy the sound of angklung, gamelan, and the curves and turns intoxicating voice that sings. Keep walking to the east boy, then will you find Borobudur, prambanan, the sound of gamelan and dance number full of tenderness.

Oh yes, son. Do not forget, stop briefly to Sukolilo District, there are brothers and sisters we are citizens Sedulur Sikep better known as "Samin", they are the kid who never made a heart shy father, because they are by the state "accused" had no religion, in fact more religious in living life.

Keep walking to the east, son. Will you find beautiful mountains, reog ponorogo, karapan cattle, and of course laden ludruk a saying. If you have time, take the boat to the north, the earth borneo you may still encounter great forest that once dibabati concessionaires. But the father believes, there you can still watch the ceremony Dayak, Orang Utan, and orchids farrago.

Dad forgot boy, you should also see childhood memories when you're with dad mengelilinmgi island of Bali. Yes, yes ... the beach of Kuta, Sanur, Tanah Lot, Bedugul, dance Janger, Trunyan, and of course also legong dance that has spread to foreign countries.

Keep on walking boy, continue to the east, to the land of the less noticed the people of Jakarta are more drunk than the power of uplift our brothers in the east of the country. Sasak puppets, dragons, nyalamak ceremony at sea, whaling, Nyale ceremony, is the beauty offered by this land.

Keep going, son. Sulawesi, yes, that country also, father pleased once to the opposite shore, where the adventurers Bulukumba build ships Phinisi. Yes, keep driving to the east of the country, up to Papua to eat the beauty of Raja, virgin forests, as well as a variety of nutritious plants.

Really son, is all ours. If some of whom had been pawned at foreign investors, do not hesitate, grab back of their hand. For all that you have, are right and your destiny as well as residents of this country.

Indeed, son, we and our leaders, never powerless precisely because of our greed that has engulfed them raw money owed without ever remember that we also have you, our offspring.

quoted from Kompas.com

Jodhi Yudono | Sunday, April 17, 2011 | 17:28 pm



Indonesian is me:

Di Aceh kau bisa menikmati tari seudati dan berteguk-teguk kopi. lalu pada sepanjang Bukit Barisan, banyak kau jumpai ngarai dan danau. Dan pantainya nak, ada satu yang tak pernah ayah lupa, adalah Tanjung Tinggi di pulau Belitung yang indahnya serupa lukisan.

Jika sampai ke tanah Jawa, singgahlah dulu ke pantai Bayah yang dipenuhi batu-batu alam nan elok. O ya nak, tak jauh dari situ, bisa pula kau jumpai saudara-saudara kita suku Baduy yang masih erat menjaga tradisi kakek moyang kita yang mulia.

Engkau telah berdiri di tatar Pasundan, nak. Bukalah mata, telinga dan hatimu, untuk menikmati bunyi angklung, degung, dan lekuk-liku suara penyanyinya yang memabukkan. Terus berjalan ke timur nak, maka akan kau jumpai borobudur, prambanan, suara gamelan dan sejumlah tari-tarian yang penuh kelembutan.

O ya, nak. Jangan lupa, mampirlah sebentar ke Kecamatan Sukolilo, di sana ada saudara-sadara kita warga Sedulur Sikep yang lebih dikenal sebagai “orang Samin”, mereka itulah nak yang pernah membuat malu hati ayah, lantaran mereka yang oleh negara “didakwa” tak punya agama, nyatanya lebih agamis dalam menjalani kehidupannya.

Terus berjalan ke timur, nak. Akan kau jumpai gunung gunung cantik, reog ponorogo, karapan sapi, dan tentu saja ludruk yang sarat ujar-ujar. Jika sempat, naiklah kapal ke utara, di bumi borneo mungkin saja masih kau temui hutan raya yang dulu dibabati para pemegang hph. Tapi ayah yakin, di sana kau masih bisa menyaksikan upacara suku dayak, orang utan, dan anggrek aneka rupa.


Ayah lupa nak, kau perlu juga menjenguk kenangan masa kecil saat kau bersama ayah mengelilinmgi pulau Bali. Ya, ya… pantai Kuta, Sanur, Tanah Lot, Bedugul, tari janger, trunyan, dan tentu pula tari legong yang sudah menyebar ke negara manca.

Teruslah berjalan nak, terus ke timur, ke tanah yang kurang terperhatikan orang-orang Jakarta yang lebih mabuk kuasa ketimbang mengangkat derajat saudara-saudara kita di bagian timur negeri. Wayang sasak, komodo, upacara nyalamak di laut, perburuan paus, upacara nyale, adalah keindahan yang ditawarkan oleh tanah ini.

Teruslah melangkah, nak. Sulawesi, ya, itu negerimu juga, ayah pernah hingga ke pantai bira, bulukumba tempat para petualang membangun kapal-kapal phinisi. Ya, teruslah melaju ke timur negeri, hingga ke papua untuk menyantap keindahan raja ampat, hutan-hutan perawan, serta aneka tumbuhan berkhasiat.

Sungguh nak, ini semua milik kita. Jika sebagian di antaranya telah tergadai pada pemodal asing, jangan ragu, rebut kembali dari tangan mereka. Sebab semua yang kau punya, adalah hak dan juga takdirmu sebagai penghuni negeri ini.

Sungguh, nak, kami dan juga pemimpin-pemimpin kami, pernah tak berdaya justru karena ketamakan kami yang telah melalap mentah-mentah uang utang tanpa pernah ingat bahwa kami juga memiliki engkau, anak keturunan kami.

dikutip dari Kompas.com

Jodhi Yudono | Minggu, 17 April 2011 | 17:28 WIB

Sabtu, 23 April 2011

Layla and Majnun {مجنون و ليلى}




Layla and Majnun

{مجنون و ليلى}

Layla and Majnun, also known as The Madman and Layla – in Arabic مجنون و ليلى (Majnun and Layla) or قيس وليلى (Qays and Layla), in Persian: لیلی و مجنون (Leyli o Majnun), Leyli və Məcnun in Azeri, Leyla ile Mecnun in Turkish, لیلا مجنو (lailā majanū) in Urdu – is a classical Arabic story. It is based on the real story of a young man called Qays ibn al-Mulawwah (Arabic: قيس بن الملوح‎) from Najd (the northern Arabian Peninsula) during the Umayyad era in the 7th century. In one version, he spent his youth together with Layla, tending their flocks. Upon seeing Layla he fell passionately in love with her.However, he went mad when her father prevented him from marrying her; for that reason he came to be called Majnun (Arabic: مجنون) meaning "madman."

Qays ibn al-Mulawwah ibn Muzahim, was a Bedouin poet. Qays ibn al-Mulawwah, who falls in love with a beautiful young girl with large dark eyes, Layla bint Mahdi ibn Sa’d (better known as Layla Al-Aamiriya) from the same tribe. Layla and Qays meeting in school.

Qays fell in love with Layla and was captivated by her. The school master would beat Qays for paying attention to Layla instead of his school work. However, upon some sort of magic, whenever Qays was beaten, Layla would bleed for his wounds. Word reached their households and their families feuded. Separated at childhood.

One day Layla and Majnun met again in their youth. Together as children they tended to the sheep together in the oasis of the Arabian desert. He soon began composing poems about his love for her, mentioning her name often. As he matures, he writes poetry, naming her in the lines of his charming poems.

Finally, he is old enough to ask Layla’s father for permission to marry her. He is told in an unkindly way that he will not be allowed to marry the girl of his dreams, that he is not a satisfactory candidate. Although they had grown up together, Layla’s father had never considered Qays as a possible husband for his daughter. When he asked for her hand in marriage, her father refused as this would mean a scandal for Layla according to local traditions.

As the story continues, her father said a final “no” to the proposals of Qays, and Layla is given to another man in marriage. When Qays heard of her marriage, he fled the tribe camp and began wandering the surrounding desert. . After all, Qays was a dreamer and not a wealthy man. His family eventually gave up hope for his return and left food for him in the wilderness. He could sometimes be seen reciting poetry to himself or writing in the sand with a stick.

Among the poems attributed to Qays ibn al-Mulawwah, regarding Layla:


I pass by these walls, the walls of Layla

and I kiss this wall and that wall
It’s not Love of the houses that has taken my heart

But of the One who dwells in those houses.

Layla got married but her heart longed for Majnun. Layla's brother, Tabrez knew about it. As a brother and head of family, Tabrez would not let Layla shame the family name by marrying Majnun. Tabrez and Majnun quarreled; stricken with madness over Layla, Majnun murdered Tabrez. Word reached the village and Majnun was arrested.

He was sentenced to be stoned to death by the villagers. Layla could not bear it and agreed to marry another man if Majnun would be kept safe from harm in exile. Hearing this, Layla's husband rode with his men to the desert towards Majnun. He challenged Majnun to the death. It is said that the instant Layla's husband's sword pierced Majnun's heart, Layla collapsed in her home. Layla and Majnun were said to be buried next to each other. As her husband and their fathers prayed to their afterlife. Myth has it, Layla and Majnun met again in heaven, where they loved forever.

It is a tragic story of undying love much like the later Romeo and Juliet. This type of love is known in Arabic culture as "Virgin Love" (Arabic: حب عذري), because the lovers never married or made love.

Etymologically, Layla is related to the Hebrew and Arabic words for "night," and is thought to mean "one who works by night." This is an apparent allusion to the fact that the romance of the star-crossed lovers was hidden and kept secret. In the Persian and Arabic languages, the word Majnun means "crazy."




Minggu, 17 April 2011

The discovery of the legend of Lake sangkuriang (penemuan danau dari legenda sangkuriang)


Daerah yang biru menunjukkan area lembah yang ada di kota bandung, dan kalo misalkan kita kasih air setinggi 20 meter aja akan tertutup tuh area bandung, dalam uji coba ini saya menggunakan signal wimax. Bandung ternyata adalah danau dari legenda sangkuriang.

Bandung City

Bandung is the largest metropolitan city in West Java and this city became the capital of the province. The town is located 140 km southeast of Jakarta, and is the third largest city in Indonesia after Jakarta and Surabaya. While in Bandung Raya is the second largest metropolitan area in Indonesia after the Greater Jakarta.

The city of flower is another name for this city, and formerly known as the Parijs van Java. In addition, the city of Bandung is also known as the town shopping, with malls and factory outlets widely spread in the city. And in 2007, the British Council makes the city of Bandung as a pilot project terkreatif town as East Asia.Today, the city of Bandung is one of the main destinations of tourism and education.

Bandung is surrounded by mountains, so the morphology territory like a giant bowl, [7] The city is geographically situated in the middle of West Java province, and located at an altitude of ± 768 m above sea level, with the highest point on is next to north with an altitude of 1050 meters above sea level and the south is a low area with a height of 675 meters above sea level.

Climate of temporary city is affected by the humid climate of the mountains and cool, with an average temperature of 23.5 ° C, average rainfall is 200.4 mm and the number of rainy days on average 21.3 days per month.

Story of Tangkuban Perahu Mount in Bandung

After three years of living in Bandung, today I know the real story about Tangkuban perhau. stories that have been tells in schools in Indonesia.
In the 'Tangkuban perahu Mount"story there are the legend of sangkuriang that wanna marrying a young girl that her name Dayang Sumbi. So he get the requirements from the girls to stem the lake from a mountain and make a boat for their honeymoon with Dyang Sumbi.

Now finally I can find where the lake is required, namely the Bandung city itself.

when I install the wimax technology in Bandung finally i know the real, the signal wimax that coverednearly 10 meters across the city bandung show the real lake of Sangkuriang lakes in bandung. We try a test to coloured the signal of wimax with blue colour. From the google earth map I get that the area covered wimax signal covers almost the entire town bandung and is similar to a lake shape.

Then the mountain? if the mountain we can foind as a mountain of tangkuban perahu.

It shows imagination bandung ancestral people are very creative, they create a story based on existing environmental conditions by promoting friendliness to the environment.

Welcome to bandung and feel the legend of Sangkuriang and Mt. Tankuban Perahu



Pada tahun 1990 kota Bandung menjadi salah satu kota teraman di dunia berdasarkan survei majalah Time.[5]

Kota kembang merupakan sebutan lain untuk kota ini, dan dahulunya disebut juga dengan Parijs van Java. Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur.Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan.

Kota Bandung dikelilingi oleh pegunungan, sehingga bentuk morfologi wilayahnya bagaikan sebuah mangkok raksasa,Secara geografis kota ini terletak di tengah-tengah provinsi Jawa Barat, serta berada pada ketinggian ±768 m di atas permukaan laut, dengan titik tertinggi di berada di sebelah utara dengan ketinggian 1.050 meter di atas permukaan laut dan sebelah selatan merupakan kawasan rendah dengan ketinggian 675 meter di atas permukaan laut.

Kisah "Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu"

Setelah tiga tahun bermukim di bandung akhirnya saya tahu cerita tangkuban perhau sebenarnya. cerita yang telah turun menurun di ajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia.
Dalam kisah legenda sangkuriang terdapat cuplikan dimana sangkuriang mendapatkan persyaratan untuk membendung danau dari sebuah gunung dan membuat perahu untuk berbulan madu dengan Dyang sumbi.
Nah akhirnya saya bisa menemukan dimana letak danau yang disyaratkan itu, yaitu merupakan kota bandung itu sendiri.

ketika saya melakukan instalaasi wimax saya melakukan pengcoveran sinyal stinggi hampir 10 meter di seluruh kota bandung hasilnya bahwa daerah yang tertutup sinyal berwarna biru. Dari peta google earth saya dapatkan bahwa area yang tertutup sinyal wimax hampir meliputi keseluruhan kota bandung dan ini mirip dengan sebuah danau.
Lalu gunung nya? kalau gunungnya bisa anda temukan sebagai gunung tangkuban perahu.

Ini menunjukkan imajinasi leluhur orang bandung sangat kreatif, mereka membuat kisah berdasarkan kondisi lingkungan yang ada dengan mengedepankan keramahan pada lingkungan.

Welcome to bandung and feel the legend of Sangkuriang and Mt. Tankuban perahu

Sabtu, 16 April 2011

Let's visit bromo mount (East Java, Malang Indonesia)

Welcome to Bromo mount that located in east Java, a lot of tourism have visit this beautifull mount. The best spot is sun rise, you will feel the sea of cloud that come to you, and the wet wind and the warm of sunrise.

Bromo have some special place, this place called "Whisper sands (Pasir berbisik)". It's name comes from the title of film that published in indonesia.You can feel the sea of black sand and the wishper of winds, beyond the black sand... whuzzzzzzzzzzzzz

Wanna go to the top of bromo mount...? it's easy you can rent the house that is not too expensive. you will look like a hero for a while. Luckily we can saw the horse race when we visited the bromo mount las t year. It's unique great and exotic exhibition.

On the top you can see the Bromo crater that smell as sulfur or look like a bad egg. This place is so sharp land and be carefull at the mouth of crater. You can buy some merchendise as edelwise flower and etc.

Hoammm... it's so tired for us to climb up this stairs. this stairs is almost hundred and it's usually called "Hundred stairs or 100 tangga". Try to see the beutifull view from this stairs

We get a picture in "teletubies valley" it's quiet green and so unbeliveable valley. The view are bright blue sky, green fresh grass and calm quite place without wind. can you feel how it's look like.


So let's come to Indonesia, and Get Lost in Indonesia that full of beautifull and extraordinary tourism that 'll never get before. Bromo mount, east java Malang city. Syah agha chilmy khan trip.

link yang laen nih/ another link to trip to the bromo mount

http://www.wiranurmansyah.com/catatan-perjalanan-nekat-ke-bromo#comment-1300

Jumat, 15 April 2011

The Miracle of "Morning Glory Pool"

One of miracle in the nature that we admire the beautifull is Morning Glory Pool in Yellowstone National Park, Wyoming, USA. Swimming inside we will find thousand faces of colour "because of the color appearance of a colorful, blue, green, yellow, orange, brown copper. This magical nature makes Morning Glory Pool is very famous in the world as a tourist destination. Each year approximately 3 million more visitors come here to witness the miracle of this pool. Perhaps, this pond has been there and called "morning glory pool 'since 1880.

Code:

Location: Yellowstone National Park, Teton County, Wyoming, USA Altitude: 7300 feet (2225 m)

In the Year 1883, EN McGowan, wife of the Assistant Park Superintendent Charles McGowan named it Morning Glory Pool pond and became known by the general public about the year 1989.

It also called in Latin as Convolutus, which means the morning glory flower which resembles a spring. To preserve the tourist Morning Glory Pool, park officials had made ​​various efforts so it will not to interfere from the natural damage (vandalism).

Here's the Morning Glory Pool sightings in recent decades

As a result of decreasing temperature, the bacteria began to come in and change the blue color to yellow, orange and brown copper. . Initially, the bacteria exist only in the pool (yellow and orange) but along with the decreasing temperature, the bacteria began to rush down to the middle entrance.

Originally, the hot water pool dominated brilliant blue color. But then it changed to some color due to human activities, namely, the visitors who throw money coin, stone, wood and even garbage. As a result, objects that are thrown in the pond that is embedded in the bottom of the pond, because it happened many years, that clog the channels of hot water based pool. Water circulation is interrupted, and water temperature also decreased. The pool that was blue with the steam was so hot steaming water, now no longer.






Satu lagi keajaiban alam yang pantas kita kagumi, Morning Glory Pool, di Yellowstone National Park, Wyoming, Amerika. Kolam 'seribu wajah' karena penampilan warnanya yang warna-warni, biru, hijau, kuning, orange, coklat tembaga.Fenomena ajaib ini membuat Morning Glory Pool sangat terkenal di dunia sebagai tujuan wisata. Setiap tahun sekitar 3 juta lebih pengunjung datang ke sini untuk menyaksikan keajaiban kolam ini. Konon, kolam ini telah ada dan dinamai "morning glory pool' sejak tahun 1880.

Code:

Lokasi: Yellowstone National Park , Teton County , Wyoming, USA Ketinggian: 7.300 kaki (2.225 m)

Pada Tahun 1883, EN McGowan, istri dari Asisten Inspektur Taman Charles McGowan menamai kolam itu Morning Glory Pool dan menjadi terkenal oleh masyarakat umum sekitar tahun 1989.

Ia juga menyebut dalam bahasa Latin sebagai Convolutus, yang berarti morning glory flower yaitu menyerupai mata air. Untuk menjaga kelestarian wisata Morning Glory Pool, pejabat taman pun melakukan berbagai upaya agar tidak terganggu dari kerusakan alam (vandalisme).

Berikut Penampakan Kolam Morning Glory dalam beberapa dekade terakhir

Akibat suhu menurun, bakteri pun mulai masuk dan mengubah warna biru menjadi kuning, orange dan coklat tembaga. .Awalnya, bakteri hanya ada di pinggir kolam (warna kuning dan orange) namun seiring dengan makin menurunnya suhu, bakteri mulai merangsek masuk hingga ke tengah.

Aslinya, kolam air panas itu didominasi warna biru cemerlang. Tapi kemudian berubah menjadi beberapa warna karena ulah manusia, yakni, para pengunjung yang membuang uang coin, batu, kayu bahkan sampah. Akibatnya benda-benda yang dibuang di dalam kolam itu tertanam di dasar kolam, karena ini terjadi bertahun-tahun, yang menyumbat saluran-saluran air panas didasar kolam. Sirkulasi air terganggu, dan suhu air pun menurun. Kolam yang tadinya berwarna biru dengan uap yang mengepul-ngepul saking panasnya air, kini tidak lagi.

Kamis, 14 April 2011

The real Story "Temanku mati terbakar" (My friend Dead Burned)


Temanku mati terbakar

Abu Abdillah berkata: "Aku tak tahu, bagaimana harus menuturkan kisah ini padamu. Kisah yang pemah kualami sendiri beberapa tahun lain, sehingga mengubah total perjalanan hidupku. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi demi tanggung jawab di hadapan Allah, demi peringatan bagi para pemuda yang mendurhakai Allah dan demi pelajaran bagi para gadis yang mengejar bayangan semu, yang disebut cinta, maka kuungkapkan kisah ini.

Ketika itu kami tiga sekawan. Yang mengumpulkan kami adalah kesamaan nafsu dan kesia-siaan. Oh tidak, kami berempat. Satunya lagi adalah setan.
Kami pergi berburu gadis-gadis. Mereka kami rayu dengan kata-kata manis, hingga mereka takluk, lain kami bawa ke sebuah taman yang jauh terpencil. Di sana, kami berubah menjadi serigala-serigala yang tak menaruh belas kasihan mendengar rintihan permohonan mereka, hati dan perasaan kami sudah mati.

Begitulah hari-hari kami di taman, di tenda, atau dalam mobil yang di parkir di pinggir pantai. Sampai suatu hari, yang tak mungkin pernah saya bisa melupakannya, seperti biasa kami pergi ke taman. Seperti biqsa pula, masing-masing kami menyantap satu mangsa gadis, ditemani minuman laknat. Satu hal kami lupa.saat itu, makanan.

Segera salah Seorang di antara kami bergegas membeli makanan dengan mengendarai mobilnya. Saat ia berangkat, jam menunjukkan pukul enam sore. Beberapa jam berlalu, tapi teman kami itu belum kembali. Pukul sepuluh malam, hatiku mulai tidak enak dan gusar. Maka aku segera membawa mobil untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, di kejauhariaku melihat jilatan api. Aku mencoba mendekat. Astaghfirullah, aku hampir tak percaya dengan yang kulihat.Ternyata api itu bersumber dari mobil temanku yang terbalik dan terbakar. Aku panik seperti orang gila.Aku segera mengeluarkan tubuh temanku dari mobilnya yang masih menyala.

Aku ngeri tatkala melihat separuh tubuhnya masak terpanggang api. Kubopong tubuhnya lalu kuletakkan di tanah.
Sejenak kemudian, dia berusaha membuka kedua belah matanya, ia berbisik lirih: "Api..., api...!"
Aku memutuskan untuk segera membawa ke rumah sakit dengan mobilku. Tetapi dengan suara campur tangis, ia mencegah: ";Tak ada gunanya.. aku tak akan sampai...!l
Air mataku tumpah, aku harus menyaksikan temanku meninggal dihadapanku. Di tengah kepanikanku, tiba-tiba ia berteriak lemah: "Apa yang mesti kukatakan padarnya?
Apa yang mesti kukatakan padaNya?"

Aku memandanginya penuh keheranan. "Siapa?" tanyaku. Dengan suara yang seakan berasal dari dasar Sumur yang amat dalam, dia menjawab: "Allah!"
Aku merinding ketakutan. Tubuh dan perasaanku terguncang keras. Tiba-tiba temanku itu menjerit,gemanya menyelusup ke setiap relung malam yang gulita, lain kudengar tarikan nafasnya yang terakhir. Innanlillaahi wa innaa ilaihi raaji 'uun.

Setelah itu, hari-hari berlalu seperti sedia kala, tetapi bayangan temanku yang meninggal, jerit kesakitannya, api yang membakaryal dan lolongannya "Apa yang harus kukatakan padaNya? Apa yang harus kukatakan padaNya?", seakan terus membuntuti setiap gerak dan diamku.
Pada diriku sendiri aku bertanya: "Aku,... apa yang harus kukatakan padaNya?"
Air mataku menetes, lain sebuah getaran aneh menjalari jiwaku. Saat puncak perenungan itulah, sayup-sayup aku mendengar adzan Shubuh menggema:
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, Asyhadu Anla Ilaaha Illa Allah... Asyhadu Anna Muhammadar XasuluNah... Hayya 'Alash Shalaah..."
Aku merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan pada diriku saja, mengajakku menyingkap fase kehidupanku yang kelam, mengajakku pada jalan cahaya dan hidayah.
Aku segera bangkit, mandi dan wudhu, menyucikan tubuhku dari noda-noda kehinaan yang menenggelamkanku selama bertahun-tahun.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi meninggallkan shalat. Aku memuji Allah, yang tiada yang layak dipuji selain Dia. Aku telah menjadi manusia lain. Mahasuci Allah yang telah mengubah berbagai keadaan. Dengan seizin Allah, aku telah menunaikan umrah. Insya AIlah aku akan melaksanakan haji dalam waktu dekat, siapa yang tahu? Umur ada di tangan Allah.


Seseorang mengendarai mobilnya denganpelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemani-ku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta'at menjalankan perintah agama.

Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an...dengan suara amat lemah.
"Subhanallah! " dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan:ia hampir mati.

Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan' al quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: "Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu... apalagi aku Sudah punya pengalaman" aku Meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qurlan yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.


Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.

Sampai di rumah sakit...Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua ingin ikut menyalatinya. i

Salah seorang petugas tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkanl ketika kecelakaan sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekejaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.

Bila ada yang mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan halus. "Justru saya memanfaatkan waktu pejalananku dengan menghafal dan mengulang-ulang bacaan Al-Qur'an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku ayunkan," kata almarhum.
Aku ikut menyalati jenazah dan mengantamya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
"Dengan nama Allah dan atas ngama Rasulullah".
Pelan-pelan, kami menimbuninya dengan tanah...Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan ditanya...
Almarhum menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat...

Dan aku... sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia.Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman Surga. Amin...

Oleh : Syaikh Abdul Hamid Al Bilaly

Diposkan oleh We are Muslim di 01:50 0 komentar

My friend Dead Burned


Abu Abdillah said: "I do not know, how I have to told you this story. The story that I'll never forget, thus changing the total trip of my life. Actually, I do not want to tell, but for the sake of responsibility before Allah, for the sake of warning to the youth who disobeys Allah and for the lessons for the girls who pursue false shadow, called love, then tell you this story.
When we were three friends. What we gather is the same passion and futility. Oh no, the four of us. The Four is the devil.. as you know

We went hunting for the girls on the love name. They we took her up by sweet words, until they were subdued, others we take it to a remote park areas. There, we turned into wolves who do not have mercy hear the moans of pain of girls. We took up and grabbed her virginity her purity and others.., our hearts and our feelings are dead.
That's how our days in the park, in tents, or in a car parked on the beach. Until one day, that I could not possibly ever forget it, as usual we went to the park. Similarly, each of us spend a day with broked the girls on the way with a drink (alcoholic) curse. One thing we forget is about, food.

An immediate one of us rushed to buy food with driving a car. As departed, at six o'clock in the afternoon. Several hours passed, but our friend was not returned. Ten o'clock at night, my heart began uncomfortable and angry. So I immediately took the car to look for it. In far away I saw flames and a car accident. I tried approaching. "Astaghfirullah", I hardly believe what i saw, the fire came from my friend car which overturned and caught fire.

I panicked like a crazy man.I immediately remove my friend body from his car which was still burning. I was horrified when I saw half of his body baked cook fire. I guard his body to stand and then I put in the ground.
A moment later, he tried to open both eyes, he whispered softly: "... Fire, fire ...!"
I decided to immediately bring to the hospital with my car. But with mixed voice crying, it prevents: "; It's useless .. I'll be gone ...!

My tears spilled, I could't watched my friends die before me. Suddenly He cried out weakly: "What should I say ...?
What should I tell him? "
I looked at amazement. "Who?" I asked. With a voice that seemed to come from the bottom of very deep wells, he replied: "Allah!"
I felt fear, my Body shaken and hard feelings. Suddenly my friend was screaming loudly. aAnd he passed away. Innanlillaahi wa innaa ilaihi raaji 'Uun.

After that, the days passed as usual, but the shadow of my friends who died, cried her pain, the fire that burned and his screamed out " What should I tell him? What should I tell him?", Though continued to follow every move and silent to myself. I said: "I, ... what to say to him?"
My tears drip, the other a strange thrill coursed through my soul. When the peak reflection of that, I heard the faint echoing call (Adzan) to prayer Fajr:
"Allahu Akbar, Allahu Akbar, ASYHADU Anla ilaaha Illa Allah ... ASYHADU Anna Muhammadar rasulullah ... Hayya 'Alash Shalaah ..."
I feel that prayer is only directed at me alone, take me uncover the dark phase of my life, take me on the faith and guidance.
I immediately got up, shower and ablution, cleanse my body from the opprobrium which stains drown over the years. And clean up all my sins.

Since then, I never again forget to pray (shalat). I praise God, praise-worthy that there is no other than Him. I had become another man. Glory be to God who has transformed a variety of circumstances. With God's permission, I have performed the Umrah. AIlah willing, I will perform Hajj in the near future, who knows? Age is in the hands of God.


Someone drove slowly, but his car suddenly stalled in a tunnel towards the city.
He got out of his car to change the flat. When he stood behind the car to lower the spare tire, sudden a car at high speed hit from behind. The man was immediately fell instantly.

I was with a friend,that accompany me on the first incident quickly to the scene. Here we saw the accident brought the car and we also immediately contact the hospital directly for get the ambulance. There was a man inside the car inthe accident.

He was young, from the looks, he looks a religion which obey the command.
When lifted into the car, we were both quite frantic, so no time to pay attention if he murmured something. When we lied down in the car, we could distinguish the sound coming out of his mouth.
He chanted verses from the Al-Quran and ... with a very weak voice.
"Subhanallah!" In such critical condition, he still managed to recite the verses of the holy Al-Quran? The blood flushed all her clothes, her bones broken, even: he was almost dead.

In such conditions, he continued to recite the verses of the Quran with a melodious voice. During the life I never heard a reading of 'al quran as beautiful as that. In the mind alone I murmured: "I will direct reading creed, as was done by my former ... especially when I've had the experience" I Convince myself.
Me and my friend as taxable hypnotic listening to the reading of Al-Qurlan the tuneful it. Suddenly my body shiver spread and infiltrate into each cavity.
Suddenly the sound stopped. I looked back. I saw he held up his forefinger and bersyahadat. His head was drooping, I jumped back. I held his hand, his heartbeat breath, no one feels. He had died.


I then looked at him closely, my tears dripping, I hid my tears, afraid to know my friend. I cry to my friend when the young man had died. My friends could not help crying. So it is with me. I continued to cry, my tears flowing. The atmosphere in the car really very touching.

Arriving at the hospital ... To people in sanal we preach about the young man's death and before his death an amazing event. Many people are affected by our story, so that not a few were moved to tears. One of them, after hearing her story, immediately approached the corpse and kissed his forehead.
All those present decided not to move before knowing exactly when the body will be praied immedietly. They want to give their last respects to the bodies, all want to participate to pray him

One officer of hospital contact the deceased's house. We come to deliver the corpse to his family home. One of his brother when the accident actually mengisahkanl the deceased would visit her grandmother in the village. Pekejaan routine that he does every Monday. There, the deceased also sympathize widows, orphans and poor people. When an accident occurs, the car filled with rice, sugar, fruits and goods other basic needs. He also never forgot his religious books and tapes recitation. All were to be distributed to people who he santuni. In fact he also brought candy to be distributed to small children.

When someone complained about boredom in her trip, she replied with a fine. "In fact I used the time pejalananku by memorizing and repeating reading the Qur'an, also by listening to tapes of lectures, I expect the pleasure of Allah at every step that I swing your leg," said the deceased.
I'm menyalati bodies and mengantamya up to the grave.
In a narrow grave, the deceased was interred. His face was exposed to the mecca.
"In the name of God and of ngama Prophet."
Slowly, we covered it with soil ... Have the courage to God, brother, in fact he will be asked ...
Deceased facing his first day of the days hereafter ...

And I ... really as if he were to face my first day in dunia.Aku truly repent of my bad habits. I hope God forgives me my sins in the past and meneguhkanku to remain obey, give me a good end of life (Khusnul khatimah) and make my grave and the graves of the Muslims as the gardens of Paradise. Amen ...
By: Sheikh Abdul Hamid Al Bilaly

Posted by We are Muslims at 1:50 PM 0 comments